Scroll untuk baca artikel
NasionalNews

Melangkah ke Masa Lalu: Kisah Fasilitas dan Koleksi Terdampak di Museum Sejarah Nasional

119
×

Melangkah ke Masa Lalu: Kisah Fasilitas dan Koleksi Terdampak di Museum Sejarah Nasional

Sebarkan artikel ini
Museum Nasional Kebakaran, 6 Arca Repatriasi Dipastikan Aman

Halosenja.com – Pada tahun 2020, dunia dikejutkan oleh pandemi COVID-19 yang melanda hampir setiap negara di dunia. Indonesia juga tidak luput dari dampaknya, termasuk fasilitas dan koleksi Museum Sejarah Nasional yang terdampak. Museum yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat ini merupakan salah satu museum terbesar di Indonesia yang menyimpan berbagai koleksi sejarah bangsa.

Museum Sejarah Nasional adalah tempat yang penting dalam melestarikan sejarah Indonesia. Tapi sayangnya, pandemi COVID-19 telah mengubah segalanya. Museum ini ditutup untuk umum sejak Maret 2020 sebagai langkah pencegahan penyebaran virus. Penutupan ini berdampak besar pada pendapatan museum, karena sebagian besar pendapatan mereka berasal dari tiket masuk dan penjualan merchandise.

Namun, meski terdampak oleh pandemi, Museum Sejarah Nasional tetap berusaha untuk tetap beroperasi dan mempertahankan koleksi mereka. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan membuka akses virtual ke museum melalui internet. Dengan ini, pengunjung dapat mengunjungi museum secara virtual dan melihat koleksi-koleksi bersejarah yang ada di sana.

Selain itu, Museum Sejarah Nasional juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengadakan acara-acara online yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Misalnya, mereka mengadakan webinar tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh negeri. Ini adalah cara yang bagus untuk tetap terhubung dengan masyarakat dan menyebarkan pengetahuan sejarah kepada generasi muda.

Namun, meski upaya tersebut dilakukan, tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi ini memberikan dampak yang signifikan pada koleksi museum itu sendiri. Beberapa koleksi yang membutuhkan perawatan khusus seperti artefak bersejarah dan benda-benda kuno menjadi terabaikan karena keterbatasan akses dan sumber daya yang terbatas. Hal ini sangat disayangkan mengingat pentingnya koleksi-koleksi ini dalam melestarikan sejarah Indonesia.

Namun, tidak semua hal buruk datang dari pandemi ini. Terdampaknya Museum Sejarah Nasional juga menjadi kesempatan untuk melakukan renovasi dan pemeliharaan fasilitas museum yang sudah lama tidak dilakukan. Sebelum pandemi, museum ini sering dikunjungi oleh ribuan pengunjung setiap harinya, sehingga fasilitasnya sering mengalami keausan dan kerusakan. Dengan adanya penutupan ini, pihak museum dapat melakukan perbaikan dan pembaruan yang diperlukan agar museum tetap nyaman dan aman bagi pengunjung di masa mendatang.

Selain itu, pandemi ini juga memicu kreativitas tim Museum Sejarah Nasional dalam menyajikan koleksi mereka. Mereka menciptakan program virtual reality (VR) yang memungkinkan pengunjung untuk “berkeliling” museum dan melihat koleksi-koleksi secara mendalam. Dengan menggunakan teknologi VR, pengunjung dapat merasakan sensasi berkunjung ke museum seolah-olah mereka berada di sana secara fisik.

Tentu saja, pengalaman tersebut tidak dapat menggantikan pengalaman nyata mengunjungi museum, namun ini adalah langkah yang inovatif dalam mengatasi situasi yang sulit di tengah pandemi. Museum Sejarah Nasional juga berharap bahwa dengan adanya program ini, minat masyarakat terhadap sejarah Indonesia tetap terjaga dan keberadaan museum tidak terlupakan.

Dalam situasi sulit ini, Museum Sejarah Nasional tetap berusaha untuk bertahan dan tetap berperan dalam melestarikan sejarah Indonesia. Meski terdampak secara finansial dan koleksi yang terabaikan, mereka tidak menyerah dan tetap beradaptasi dengan situasi yang ada. Semoga pandemi ini segera berakhir dan Museum Sejarah Nasional dapat kembali beroperasi sepenuhnya untuk masyarakat Indonesia.