Scroll untuk baca artikel
FemaleLifestyle

Warna Kulit dan Diskriminasi: Memahami Sejarah Colorisme di Indonesia

29
×

Warna Kulit dan Diskriminasi: Memahami Sejarah Colorisme di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Sejarah Istilah Colorisme dan Praktiknya di Indonesia, Sudah

Halosenja.com – Colorisme merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada diskriminasi atau perlakuan tidak adil berdasarkan warna kulit seseorang. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada abad ke-20 dan merupakan fenomena yang telah meluas ke berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia memiliki beragam etnis dan warna kulit, nyatanya praktik colorisme juga ada di negeri ini.

Sejarah colorisme di Indonesia sebenarnya sudah jauh sebelum istilah ini populer. Sejak zaman kolonial Belanda, warna kulit telah menjadi penanda status sosial di masyarakat. Skin whitening atau memutihkan kulit, merupakan salah satu praktik yang umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk dianggap lebih cantik atau lebih dihormati. Hal ini dipengaruhi oleh standar kecantikan yang dipromosikan oleh media dan budaya populer.

Perkembangan teknologi dan media sosial juga turut mempengaruhi persepsi masyarakat tentang warna kulit. Banyaknya iklan produk pemutih kulit yang menjanjikan kulit lebih cerah dan bersih secara instan, membuat banyak orang merasa tertekan untuk memiliki warna kulit yang lebih terang. Hal ini juga dapat dilihat dari maraknya praktik memakai tabir surya atau krim pemutih kulit di berbagai kalangan, termasuk selebriti, pejabat, dan masyarakat biasa.

Namun, praktik colorisme juga memiliki dampak yang cukup serius. Diskriminasi berdasarkan warna kulit dapat menyebabkan rendahnya harga diri, depresi, dan bahkan kekerasan fisik bagi mereka yang dianggap mempunyai warna kulit yang lebih gelap. Perasaan tidak percaya diri dan terus-menerus merasa tidak puas dengan penampilan kulit dapat berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang.

Selain itu, praktik colorisme juga dapat memperburuk kesenjangan sosial yang sudah ada di masyarakat. Orang dengan warna kulit yang lebih gelap seringkali dianggap memiliki standar kecantikan yang kurang oleh masyarakat, sehingga mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, pendidikan yang layak, atau kesempatan yang sama dengan orang dengan warna kulit yang lebih terang.

Untuk mengatasi praktik colorisme ini, perlu adanya edukasi yang tepat mengenai pentingnya merayakan keberagaman warna kulit dan menghargai setiap individu tanpa memandang warna kulitnya. Selain itu, media massa juga memiliki peran penting dalam menggambarkan kecantikan dalam berbagai warna kulit dan menekankan bahwa warna kulit tidak menentukan nilai seorang individu.

Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mengurangi praktik colorisme di Indonesia antara lain adalah dengan mengkampanyekan kecantikan dalam semua warna kulit, melarang iklan produk pemutih kulit yang merugikan, serta menyuarakan pesan positif tentang keberagaman dalam setiap aspek kehidupan. Hanya dengan kerjasama dari semua pihak, kita dapat mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai setiap individu tanpa memandang warna kulitnya.