Scroll untuk baca artikel
HealthMen

Bulan untuk Aktivitas Digital

61
×

Bulan untuk Aktivitas Digital

Sebarkan artikel ini
Penelitian Sebut Remaja Bisa Habiskan Sekitar Rp300 Ribu Per

Halosenja.com – Bulan untuk Beli Makanan Cepat Saji

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa remaja di Indonesia bisa menghabiskan sekitar Rp300 ribu per bulan untuk membeli makanan cepat saji. Studi ini dilakukan oleh Institut Penelitian Pangan dan Gizi (IPPG) sebagai bagian dari upaya mereka untuk memahami pola makan remaja dan dampaknya terhadap kesehatan.

Penelitian ini melibatkan 500 remaja berusia antara 15 hingga 18 tahun dari berbagai kota di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar remaja menghabiskan sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per hari untuk membeli makanan cepat saji. Jika dihitung selama satu bulan, angka ini mencapai Rp300 ribu.

Peneliti menemukan bahwa faktor utama yang mempengaruhi kecenderungan remaja untuk mengonsumsi makanan cepat saji adalah keterbatasan waktu dan kemudahan akses. Remaja seringkali sibuk dengan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler, sehingga mereka cenderung memilih makanan yang bisa dimakan dengan cepat dan praktis. Selain itu, keberadaan gerai-gerai makanan cepat saji yang tersebar di mana-mana membuat mereka lebih mudah mendapatkan makanan tersebut.

Namun, penelitian juga menemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan remaja. Makanan cepat saji umumnya mengandung tinggi lemak jenuh, gula, dan garam, serta rendah serat dan nutrisi penting lainnya. Konsumsi berlebihan makanan cepat saji dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan gangguan pencernaan.

Untuk mengatasi masalah ini, para ahli gizi menyarankan remaja untuk mengadopsi pola makan sehat yang mengandung berbagai jenis makanan bergizi, termasuk sayuran, buah-buahan, sumber protein, dan biji-bijian. Selain itu, remaja juga perlu menyadari pentingnya membatasi konsumsi makanan cepat saji dan menggantinya dengan makanan yang lebih sehat.

Pemerintah juga berperan penting dalam mengatasi masalah ini dengan mengatur iklan makanan cepat saji yang ditujukan kepada remaja. Langkah-langkah lain seperti menyediakan pilihan makanan sehat di kantin sekolah dan mengedukasi remaja mengenai pentingnya pola makan seimbang juga perlu dilakukan.

Dalam kesimpulannya, penelitian ini memberikan gambaran tentang kebiasaan makan remaja di Indonesia, khususnya dalam hal konsumsi makanan cepat saji. Remaja perlu menyadari bahwa kebiasaan makan yang tidak sehat dapat berdampak negatif pada kesehatan mereka, dan penting bagi mereka untuk mengadopsi pola makan sehat yang mencakup berbagai jenis makanan bergizi. Pemerintah dan institusi terkait juga harus berperan aktif dalam mengedukasi dan menyediakan akses makanan sehat bagi remaja.