Scroll untuk baca artikel
BisnisKeuangan

Menyongsong Masa Depan: Mengapa Kita Perlu Siapkan Uang Lebih untuk Membayar Harga BBM Pertamina Non Subsidi?

108
×

Menyongsong Masa Depan: Mengapa Kita Perlu Siapkan Uang Lebih untuk Membayar Harga BBM Pertamina Non Subsidi?

Sebarkan artikel ini
Siapkan Uang Lebih, Segini Harga BBM Pertamina Non Subsidi

Halosenja.com – Siapkan Uang Lebih, Segini Harga BBM Pertamina Non Subsidi

Pertamina, perusahaan minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia, telah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis non subsidi. Kenaikan harga ini akan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2023. Bagi para pengguna kendaraan bermotor, ini berarti siapkan uang lebih untuk membeli BBM.

Pertamina mengatakan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM dan mengurangi defisit anggaran. Pada saat yang sama, pemerintah ingin mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan, seperti kendaraan listrik.

Menurut Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Mas’ud Khamid, harga BBM non subsidi akan naik sekitar 10% dari harga saat ini. Dengan kata lain, pengguna BBM non subsidi harus siap membayar lebih untuk setiap liter BBM yang mereka beli. Kenaikan harga ini akan berlaku untuk semua jenis BBM non subsidi, termasuk Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan lain-lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah berupaya untuk mengurangi subsidi BBM sebagai langkah untuk menghemat anggaran negara. Subsidi BBM telah menjadi beban besar bagi pemerintah karena biaya yang tinggi dan kurang efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga BBM non subsidi diharapkan dapat membantu mengurangi defisit anggaran dan memperkuat ekonomi nasional.

Namun, keputusan ini telah menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Ada yang setuju dengan langkah ini karena mereka berpikir bahwa subsidi BBM tidak adil dan hanya menguntungkan golongan tertentu. Mereka berpendapat bahwa pengguna BBM non subsidi seharusnya membayar harga yang lebih tinggi sesuai dengan biaya produksi dan distribusi.

Di sisi lain, ada juga yang menentang kenaikan harga BBM non subsidi ini. Mereka berargumen bahwa kenaikan harga BBM akan memberikan beban ekonomi tambahan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja atau beraktivitas. Mereka berpendapat bahwa pemerintah seharusnya lebih fokus pada pengembangan transportasi umum yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan.

Selain itu, kenaikan harga BBM non subsidi juga dapat berdampak pada inflasi harga barang dan jasa. Ketika harga BBM naik, biaya transportasi juga akan naik, yang kemudian dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa lainnya. Ini dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan mengurangi pertumbuhan ekonomi.

Namun, Pertamina dan pemerintah menekankan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi ini akan dikompensasi dengan peningkatan kualitas BBM. Mereka berjanji untuk terus meningkatkan kualitas BBM agar kendaraan lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk mengalokasikan dana yang diperoleh dari kenaikan harga BBM non subsidi untuk program-program pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga minyak mentah dunia telah mengalami fluktuasi yang signifikan. Kenaikan harga minyak mentah dunia dapat berdampak pada harga BBM di dalam negeri, terutama jika nilai tukar rupiah terhadap dolar juga melemah. Oleh karena itu, harga BBM non subsidi dapat berubah secara periodik sesuai dengan kondisi pasar internasional.

Dalam rangka menghadapi kenaikan harga BBM non subsidi ini, masyarakat diharapkan untuk melakukan penghematan energi dan mencari alternatif penggunaan energi yang lebih efisien. Salah satu contohnya adalah dengan menggunakan kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi. Pemerintah juga telah meluncurkan program-program insentif untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik, seperti pembebasan pajak dan subsidi.

Dalam kesimpulan, harga BBM non subsidi akan mengalami kenaikan sekitar 10% mulai tanggal 1 Januari 2023. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi subsidi BBM dan mengurangi defisit anggaran. Meskipun keputusan ini menuai beragam tanggapan dari masyarakat, pemerintah berharap bahwa kenaikan harga ini dapat membantu memperkuat ekonomi nasional dan mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.